Sabtu, 08 September 2012

Anak Kelahi, Ibu Perang Dingin

Hari ini aku mendengar cerita dari seorang teman yang tetangganya bingung dan nyaris hijrah dari rumah yang ditempati gara-gara tidak tahan dengan kelakuan ibu-ibu di sekitarnya. Hanya karena hal sepele menurutku. Gara-gara anaknya 'iseng' dan berkelahi sama anak tetangga dan akibatnya si ibu tidak terima dengan kenakalan anak tersebut, sehingga terjadilah perang dingin antar tetangga. Sementara para ibu sibuk dengan urusan perang dingin yang tak tuntas dalam waktu 3 hari, anak-anak dalam hitungan jam atau bahkan dalam hitungan menit, tak sampai berhari-hari sudah berteman kembali. Kasus ini tak hanya terjadi di satu tempat. Banyak laporan serupa kudapatkan. Kasus-kasus seperti ini sangat memprihatinkan. Betapa masih banyak ibu-ibu yang belum paham perannya sebagai seorang ibu, sebagai anggota masyarakat dan lebih jauh lagi sebagai seorang Hamba Allah. Seorang ibu seharusnya dapat memahami karakter anak masing-masing. Kalo memang merasa anaknya salah kenapa dibela mati-matian, sampai tetangga harus dimusuhi. Atau kalau memang anaknya yang dinakali kenapa tidak memberikan contoh pada sang anak untuk dapat memaafkan orang lain apalagi terhadap tetangga yang dikira Rasulullah bakal mendapatkan hak waris gara-gara malaikat Jibril senantiasa mewasiatkan untuk berbuat baik pada tetangga.
Tentulah ini bermuara dari belum pahamnya mereka akan nilai-nilai Islam. Mereka mungkin belum paham atau mungkin belum tahu bahwa yang namanya tetangga itu harus dihormati dan dimuliakan, seperti yang tertera dalam hadits “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6019, dari sahabat Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu).
Begitu mulia dan besarnya kedudukan tetangga,  sampai-sampai Allah SWT memasukkannya di dalam 10 hak yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala (artinya): “Beribadahlah hanya kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)
Kalaupun kita termasuk orang yang dizolimi gara-gara kita dimusuhi tetangga padahal kita merasa tidak bersalah (setelah introspeksi diri tentunya), maka kedepankanlah sifat pemaaf ... Allah SWT saja tak akan berhenti memberikan ampunan pada hamba-Nya. Mengapa kita harus mengatakan "tiada maaf bagimu" untuk tetangga kita sendiri.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik kepada tetangganya.”(HR. at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma)

Wallahu 'alam bisawab
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar