Jumat, 28 September 2012

Minat Baca


Membaca adalah salah satu kebiasaan yang sedini mungkin harus diajarkan pada anak-anak. Kebiasaan ini tentu perlu dicontohkan pula oleh orang tua kepada anak-anaknya. Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak juga sangat memerlukan asupan ilmu dan wawasan, salah satunya adalah dengan membaca.   

Sangat miris rasanya, ketika Rasulullah mendapatkan wahyu yang pertama tentang perintah untuk membaca (IQRO’) sedangkan sebagian besar umat muslim sendiri justru sangat sedikit sekali waktunya dipergunakan untuk membaca. Padahal perang saat ini bukan perang senjata, tapi perang pemikiran. Bagaimana umat Islam akan maju jika suhunya belum sama panasnya dengan umat lain. 

Dari hasil survey yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terhadap 67 orang ibu yang tinggal di sekitar rumah penulis (88% adalah ibu rumah tangga, 6% berprofesi sebagai karyawan, dan 6% berprofesi sebagai guru), beberapa kendala yang dihadapi untuk menghidupkan budaya baca di masyarakat kita adalah:
  1. Keterbatasan ekonomi    Selain  itu harga buku yang memang tidak bisa dibilang murah, membuat orang dengan ekonomi pas-pasan enggan menyisihkan dana untuk membeli buku. walaupun mungkin secara ekonomi mereka memiliki uang yang cukup, mereka akan lebih tertarik untuk membeli baju atau sesuatu yang sifatnya konsumtif.  Dari hasil survey hanya 22% ibu-ibu yang memiliki koleksi buku lebih dari 20 buah. 61 % hanya memiliki paling banyak 10 buah buku.
  2. Gaya hidup. Bagi sebagian orang, buku tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang penting. Ketika ada waktu luang, sebagian besar menempatkan nonton TV dan mendengarkan musik sebagai pilihan, membaca buku hanya ditempatkan pada pilihan terakhir. 
  3. Pendidikan. Tingkat pendidikan tentu akan sangat berpengaruh pada orientasi seseorang dalam hal minat baca.
 Tren yang terjadi saat ini memang sangat luar biasa, para orang tua berlomba-lomba ‘menyekolahkan’ anaknya untuk pandai membaca pada usia yang sangat dini (kurang dari 5 tahun), ini terbukti dengan menjamurnya tempat les baca di setiap sudut perumahan, tapi dukungan untuk membudayakan baca sendiri justru diabaikan. Anak-anak tidak difasilitasi untuk mendapatkan buku-buku yang layak dibaca dan dibacakan pada mereka. Memperkenalkan budaya baca bukan hanya sekedar ‘memaksa’ anak untuk pintar membaca, tapi pembiasaan dan memberikan fasilitas yang memadai bagi anak-anak kita berupa sumber-sumber bacaan tentu akan lebih bermanfaat.

Salah satu alternatif cara yang efektif untuk menyediakan sumber bacaan adalah dengan mendirikan rumah baca. Rumah Baca dapat menjadi learning Centre bagi anak dan para orang tua, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca atau meminjam buku, tapi dapat  menjadi ajang sosialisasi juga menumbuhkan daya imajinasi dan kreativitas bagi anak-anak dengan mengadakan kegiatan seperti mendongeng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar