Zaman akan terus bergerak dan berubah, tapi keyakinan pada Allah SWT tak bisa berubah. Allah akan tetap Esa, Allah akan senantiasa ada di setiap langkah kita...
Terkadang kita terlalu over estimate yang justru cenderung berarah pada pesimisme melihat kemajuan zaman yang tentunya berimbas pada segala macam kehidupan sosial. Kita memang khawatir terhadap melesatnya alat komunikasi terhadap pergaulan anak-anak kita. Efeknya memang terkadang negatif, tapi dibalik sisi negatif tentu ada sisi positifnya. Segala sesuatu bila dilihat sisi negatifnya saja memang pada akhirnya akan menimbulkan prasangka-prasangka yang buruk dan ujungnya akan melahirkan fitnah. Tapi ketika apa yang kita lihat adalah sisi positif maka potensi-potensi baik pun akan bermunculan. Misalkan ketika mendapatkan oleh-oleh dari teman yang baru datang dari luar negeri. Ada yang di dalam hatinya mengatakan "Ah, sombong amat, baru ke luar negeri sekali aja pake ngasih oleh-oleh begini segala, yang kaya gini mah di Indonesia juga ada!" Orang yang seperti ini sudah menutup peluang kebaikan untuk dirinya sendiri, menutup peluang bersyukur, menutup peluang mendapatkan rizki yang lebih baik. Malah dia dapat dosa kalau apa yang disangkakan tidak benar. Orang yang satu lagi mengatakan : "Alhamdulillah, terima kasih ya atas hadiahnya,mudah-mudahan bermanfaat, semoga kamu bisa dapat kesempatan pergi ke sana lagi, dan bisa ngajak saya :) !" Orang yang ini tentu dibukakan peluang-peluang mendapatkan kebaikan, dengan bersyukur pada Allah, rizkinya bisa jadi nambah, dapat pahala karena menyenangkan orang lain, dan bisa mendoakan orang lain dan diri sendiri.
So...Hadapi masa depan dengan positif thinking, dan positif effort tentunya, gantungkan semua harapan pada yang Maha Mengatur kehidupan. Kuatkanlah keyakinan pada-Nya, biarkan Allah yang menjaga keturunan kita di masa yang akan datang. Jangan lupa berdo'a...
Rabu, 24 Oktober 2012
Senin, 08 Oktober 2012
Belajar dari Kubangan Air
Pernahkah Anda melihat kubangan air atau mungkin air got yang tergenang ?
Apa yang terjadi ketika ada air bekas cucian yang masuk ke dalam air yang tergenang itu?
Apa yang terjadi ketika air hujan turun?
Manusia yang tidak berusaha untuk belajar memahami ayat-ayat Allah, tidak mau berusaha memperbarui keimanannya pada Allah, diibaratkan seperti air yang berada dalam kubangan atau seperti air got yang tak pernah mengalir. Dia akan terus berputar dalam kubangan, yang makin lama akan berkurang kejernihannya bahkan bisa menjadi sarang penyakit. Ketika iman seseorang lemah karena silau dengan nikmatnya dunia yang semu, terlalu cinta pada harta, jabatan, harga diri dan syahwat , dan dia enggan untuk memperbarui iman, maka akibatnya mata hati tak lagi jernih, keras dan muncullah berbagai macam penyakit, entah itu penyakit psikis ataupun fisik.
Saat air yang tergenang tersiram air yang kotor, maka yang terjadi air yang tadinya tidak terlalu kotor akan semakin kotor. Manusia yang tidak berusaha memperbarui iman, ketika bertemu lingkungan atau teman yang tidak baik tentunya akan mendapat pengaruh dari lingkungannya. Yang tadinya masih mau shalat, ketika bertemu teman-teman yang tidak pernah shalat pasti akan terpengaruh.Entah hanya untuk menunda waktu, sampai akhirnya bisa bolong sholatnya atau bisa jadi ngga sholat sama sekali
Ketika hujan turun, air yang semula tergenang akan terkikis oleh derasnya air hujan, air yang semula kotor akan tergantikan dengan aliran air yang lebih jernih. Begitupun dengan manusia yang terus menerus memperbarui keimanannya. Ketika hatinya mulai kotor, siraman Ruhiyah akan ia cari. Imannya akan senantiasa dipertebal dengan zikrulah, mengingat Allah di setiap kesempatan, merasakan hadirnya Allah Yang Maha Melihat di setiap kesempatan. Sehingga lunturlah noda-noda yang mulai mengotori hatinya. Pengaruh yang tidak baik dari luar diri otomatis tak akan berdaya mewarnai hati yang senantiasa dibersihkan.
Subhanallah..Maha Suci Allah atas segala hikmah yang diberikan melalui ayat-ayat kauniyah-Nya...
Apa yang terjadi ketika ada air bekas cucian yang masuk ke dalam air yang tergenang itu?
Apa yang terjadi ketika air hujan turun?
Manusia yang tidak berusaha untuk belajar memahami ayat-ayat Allah, tidak mau berusaha memperbarui keimanannya pada Allah, diibaratkan seperti air yang berada dalam kubangan atau seperti air got yang tak pernah mengalir. Dia akan terus berputar dalam kubangan, yang makin lama akan berkurang kejernihannya bahkan bisa menjadi sarang penyakit. Ketika iman seseorang lemah karena silau dengan nikmatnya dunia yang semu, terlalu cinta pada harta, jabatan, harga diri dan syahwat , dan dia enggan untuk memperbarui iman, maka akibatnya mata hati tak lagi jernih, keras dan muncullah berbagai macam penyakit, entah itu penyakit psikis ataupun fisik.
Saat air yang tergenang tersiram air yang kotor, maka yang terjadi air yang tadinya tidak terlalu kotor akan semakin kotor. Manusia yang tidak berusaha memperbarui iman, ketika bertemu lingkungan atau teman yang tidak baik tentunya akan mendapat pengaruh dari lingkungannya. Yang tadinya masih mau shalat, ketika bertemu teman-teman yang tidak pernah shalat pasti akan terpengaruh.Entah hanya untuk menunda waktu, sampai akhirnya bisa bolong sholatnya atau bisa jadi ngga sholat sama sekali
Ketika hujan turun, air yang semula tergenang akan terkikis oleh derasnya air hujan, air yang semula kotor akan tergantikan dengan aliran air yang lebih jernih. Begitupun dengan manusia yang terus menerus memperbarui keimanannya. Ketika hatinya mulai kotor, siraman Ruhiyah akan ia cari. Imannya akan senantiasa dipertebal dengan zikrulah, mengingat Allah di setiap kesempatan, merasakan hadirnya Allah Yang Maha Melihat di setiap kesempatan. Sehingga lunturlah noda-noda yang mulai mengotori hatinya. Pengaruh yang tidak baik dari luar diri otomatis tak akan berdaya mewarnai hati yang senantiasa dibersihkan.
Subhanallah..Maha Suci Allah atas segala hikmah yang diberikan melalui ayat-ayat kauniyah-Nya...
Jumat, 05 Oktober 2012
Sajadah oh Sajadah
Syaithan tak akan kenal lelah untuk mencari pengikut dari golongan manusia. Ketika kita akan berbuat kebaikan, pasti akan senantiasa dihembuskan bisikan-bisikan hati yg membuat kita membelokkan niat, apalagi untuk berbuat kejahatan, pasti para syaithon akan mendukung penuh.
Pun ketika sholat, baru mau mulai sholat godaan bermunculan, mulai dari acara TV yang nanggung untuk dilewatkan, kerjaan kantor yang sudah deadline, update status yang blom slsai dan banyak alasan lain yang bikin kita jadi menduakan Allah. Ketika sholat berjama'ah...itu juga jadi ladang buat para syaithon nyari mangsa. Rasulullah SAW dalam sabdanya : " “Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan." (HR Abu Daud).
Bujuk rayu syetan pun dihembuskan lewat sajadah, bentuknya yang sekarang semakin lebar memang membuat kita nyaman dan betah duduk di sajadah. Tapi bentuk yang lebar ini, kadang bermasalah ketika dipake buat sholat jama'ah. Egoisme mulai terasa sejak sajadah lebar dibentangkan. Bukannya berlomba-lomba merapatkan shaff, justru yang dirapatkan adalah sajadahnya, jama'ah tidak mau bergeser merapatkan kaki atau bahu dengan jama'ah di sampingnya, karena sudah PeWe dengan sajadahnya yang super lebar, akhirnya semakin senanglah syetan karena dikasih tempat buat menggoda manusia. Bahkan karena saking lebar dan bagus sajadahnya, akhirnya yang sajadahnya Jadul bin Kumel bin Kecil jadi korban penindasan sajadah yang besar. Dan ini biasanya terjadi di shaff ibu-ibu....kalo di shaff bapak-bapak mudah-mudahan sih tidak begitu ::)
Padahal semestinya ketika sekarang muncul trend sajadah yang lebar, itu justru jadi ladang amal buat yang punya sajadah, supaya sajadahnya bisa bermanfaat juga untuk orang lain yang mungkin pas sholat tidak bawa sajadah.
Pun ketika sholat, baru mau mulai sholat godaan bermunculan, mulai dari acara TV yang nanggung untuk dilewatkan, kerjaan kantor yang sudah deadline, update status yang blom slsai dan banyak alasan lain yang bikin kita jadi menduakan Allah. Ketika sholat berjama'ah...itu juga jadi ladang buat para syaithon nyari mangsa. Rasulullah SAW dalam sabdanya : " “Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan." (HR Abu Daud).
Bujuk rayu syetan pun dihembuskan lewat sajadah, bentuknya yang sekarang semakin lebar memang membuat kita nyaman dan betah duduk di sajadah. Tapi bentuk yang lebar ini, kadang bermasalah ketika dipake buat sholat jama'ah. Egoisme mulai terasa sejak sajadah lebar dibentangkan. Bukannya berlomba-lomba merapatkan shaff, justru yang dirapatkan adalah sajadahnya, jama'ah tidak mau bergeser merapatkan kaki atau bahu dengan jama'ah di sampingnya, karena sudah PeWe dengan sajadahnya yang super lebar, akhirnya semakin senanglah syetan karena dikasih tempat buat menggoda manusia. Bahkan karena saking lebar dan bagus sajadahnya, akhirnya yang sajadahnya Jadul bin Kumel bin Kecil jadi korban penindasan sajadah yang besar. Dan ini biasanya terjadi di shaff ibu-ibu....kalo di shaff bapak-bapak mudah-mudahan sih tidak begitu ::)
Padahal semestinya ketika sekarang muncul trend sajadah yang lebar, itu justru jadi ladang amal buat yang punya sajadah, supaya sajadahnya bisa bermanfaat juga untuk orang lain yang mungkin pas sholat tidak bawa sajadah.
Sabtu, 29 September 2012
ARITMAJARI
Berhitung adalah salah satu keterampilan dasar yang
perlu dimiliki seseorang sejak usia dini. Kadang orang tua sulit untuk mengajarkan proses perhitungan dasar, entah itu penjumlahan apalagi pengurangan. Berbagai metode berhitung digunakan, mulai dari menggunakan 10 jari tangan ditambah lagi jari kaki, memakai lidi, mental aritmatika,sempoa, jarimatika, dll.
Saya pernah mempelajari teknik berhitung Jarimatika. Ketika mengajarkan metode ini untuk anak usia SD, dengan ukuran anak yang otaknya cukup cerdas, metode ini memang bisa dengan cepat dikuasai. Masalahnya sekarang adalah justru orang tua ingin anaknya pandai berhitung pada usia TK. Ketika metode ini diajarkan pada anak TK, ternyata hasilnya tidak terlalu optimal. Salah satu penyebabnya karena mereka agak kerepotan memahami rumus-rumus yang diberikan dalam metode ini.
Akhirnya saya punya ide untuk mengajarkan metode berhitung kombinasi antara simbolisasi jari pada Jarimatika dan mengurutkan angka. Metode ini dinamakan ARITMAJARI. Dengan kesepuluh jari tangan dengan mudah anak-anak dapat mengurutkan bilangan 1 hingga 99. Tak perlu lagi mengangkat jari kaki karena ingin menghitung hingga 20 dan tidak perlu juga menghafal kawan/teman kecil, kawan/teman besar, dll.. ARITMAJARI tidak hanya sekedar mengasah otak anak dengan kemampuan berhitung, tetapi juga melatih kemampuan motorik terutama jari-jari tangan. Dengan mempermudah pembelajaran berhitung terutama penjumlahan dan pengurangan, diharapkan ini menjadi awal bagi anak-anak untuk dapat menyukai matematika yang sering kali disebut sebagai pelajaran yang sulit.
Saya pernah mempelajari teknik berhitung Jarimatika. Ketika mengajarkan metode ini untuk anak usia SD, dengan ukuran anak yang otaknya cukup cerdas, metode ini memang bisa dengan cepat dikuasai. Masalahnya sekarang adalah justru orang tua ingin anaknya pandai berhitung pada usia TK. Ketika metode ini diajarkan pada anak TK, ternyata hasilnya tidak terlalu optimal. Salah satu penyebabnya karena mereka agak kerepotan memahami rumus-rumus yang diberikan dalam metode ini.
Akhirnya saya punya ide untuk mengajarkan metode berhitung kombinasi antara simbolisasi jari pada Jarimatika dan mengurutkan angka. Metode ini dinamakan ARITMAJARI. Dengan kesepuluh jari tangan dengan mudah anak-anak dapat mengurutkan bilangan 1 hingga 99. Tak perlu lagi mengangkat jari kaki karena ingin menghitung hingga 20 dan tidak perlu juga menghafal kawan/teman kecil, kawan/teman besar, dll.. ARITMAJARI tidak hanya sekedar mengasah otak anak dengan kemampuan berhitung, tetapi juga melatih kemampuan motorik terutama jari-jari tangan. Dengan mempermudah pembelajaran berhitung terutama penjumlahan dan pengurangan, diharapkan ini menjadi awal bagi anak-anak untuk dapat menyukai matematika yang sering kali disebut sebagai pelajaran yang sulit.
Jumat, 28 September 2012
Minat Baca
Membaca
adalah salah satu kebiasaan yang sedini mungkin harus diajarkan pada anak-anak.
Kebiasaan ini tentu perlu dicontohkan pula oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak juga sangat memerlukan asupan ilmu dan
wawasan, salah satunya adalah dengan membaca.
Sangat
miris rasanya, ketika Rasulullah mendapatkan wahyu yang pertama tentang
perintah untuk membaca (IQRO’) sedangkan sebagian besar umat muslim sendiri
justru sangat sedikit sekali waktunya dipergunakan untuk membaca. Padahal perang saat ini bukan perang senjata, tapi perang pemikiran. Bagaimana umat Islam akan maju jika suhunya belum sama panasnya dengan umat lain.
Dari hasil survey yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terhadap 67 orang ibu yang tinggal di sekitar rumah penulis (88% adalah ibu rumah tangga, 6% berprofesi sebagai karyawan, dan 6% berprofesi sebagai guru), beberapa kendala
yang dihadapi untuk menghidupkan budaya baca di masyarakat kita adalah:
- Keterbatasan ekonomi Selain itu harga buku yang memang tidak bisa dibilang murah, membuat orang dengan ekonomi pas-pasan enggan menyisihkan dana untuk membeli buku. walaupun mungkin secara ekonomi mereka memiliki uang yang cukup, mereka akan lebih tertarik untuk membeli baju atau sesuatu yang sifatnya konsumtif. Dari hasil survey hanya 22% ibu-ibu yang memiliki koleksi buku lebih dari 20 buah. 61 % hanya memiliki paling banyak 10 buah buku.
- Gaya hidup. Bagi sebagian orang, buku tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang penting. Ketika ada waktu luang, sebagian besar menempatkan nonton TV dan mendengarkan musik sebagai pilihan, membaca buku hanya ditempatkan pada pilihan terakhir.
- Pendidikan. Tingkat pendidikan tentu akan sangat berpengaruh pada orientasi seseorang dalam hal minat baca.
Salah satu alternatif cara yang efektif untuk menyediakan sumber bacaan adalah dengan mendirikan rumah baca. Rumah Baca dapat menjadi learning Centre bagi anak dan para orang tua, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca atau meminjam buku, tapi dapat menjadi ajang sosialisasi juga menumbuhkan daya imajinasi dan kreativitas bagi anak-anak dengan mengadakan kegiatan seperti mendongeng.
Kamis, 27 September 2012
Manusia Mulia
Setiap makhluk yang hidup didunia ini pasti punya manfaat. Baik manfaat secara langsung maupun secara tidak langsung. Kadang kita sebagai manusia merasa diri kita paling mulia,sehingga ketika ada makhluk yang menurut kita tak pantas, mereka diremehkan, dicaci, dihina habis-habisan. Padahal mereka semua sama-sama makhluk ciptaan ا للة .
Kadang kita bertanya, untuk apa makhluk yang menurut kita tak pantas itu diciptakan oleh-Nya?? Untuk apa ا للة menciptakan makhluk seperti binatang anjing atau babi yang justru kemudian diharamkan oleh-Nya ? Mengapa اللة menghadirkan anak yang tidak sempurna padahal kedua orang tuanya sangat sempurna fisiknya. Itu semua tentu sudah diskenariokan oleh اللة sebagai suatu ujian bagi manusia. Manusia dengan segala kesempurnaan yang dimiliki akan senantiasa diuji tidak hanya dari kekurangan yang dia dapatkan, tapi kelebihan yang dimiliki juga adalah suatu ujian. اللة Yang Maha Rahman, memberikan limpahan kasih-Nya kepada seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Tak ada satu pun makhluk yang luput dari sifat ارحمن -Nya. Hewan yang kecil sekalipun tetap mendapat jatah hidup dari-Nya. Cacing yang tinggal jauh di dalam tanah pun tetap bisa makan dan bernafas, ikan yang hidup jauh di dalam laut pun tetap mendapat jatah. Sifat Rahmannya اللة berlaku pula untuk seluruh umat manusia baik itu beriman atau kafir.
Kemuliaan bagi seorang manusia bukan hanya dinilai dari fisik. Belum tentu kita yang merasa sempurna bisa dinilai sempurna dan mulia di hadapan اللة karena "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi اللة adalah orang yang paling takwa diantara kamu." (QS.Al-Hujurat : 13). Bisa jadi orang yang sering menghina, tidak lebih mulia dari apa yang dihinanya. Orang yang hidupnya mulia adalah orang yang bisa memuliakan orang lain entah dalam kata-kata maupun sikap. Semoga اللة senantiasa menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang mulia.
Kadang kita bertanya, untuk apa makhluk yang menurut kita tak pantas itu diciptakan oleh-Nya?? Untuk apa ا للة menciptakan makhluk seperti binatang anjing atau babi yang justru kemudian diharamkan oleh-Nya ? Mengapa اللة menghadirkan anak yang tidak sempurna padahal kedua orang tuanya sangat sempurna fisiknya. Itu semua tentu sudah diskenariokan oleh اللة sebagai suatu ujian bagi manusia. Manusia dengan segala kesempurnaan yang dimiliki akan senantiasa diuji tidak hanya dari kekurangan yang dia dapatkan, tapi kelebihan yang dimiliki juga adalah suatu ujian. اللة Yang Maha Rahman, memberikan limpahan kasih-Nya kepada seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Tak ada satu pun makhluk yang luput dari sifat ارحمن -Nya. Hewan yang kecil sekalipun tetap mendapat jatah hidup dari-Nya. Cacing yang tinggal jauh di dalam tanah pun tetap bisa makan dan bernafas, ikan yang hidup jauh di dalam laut pun tetap mendapat jatah. Sifat Rahmannya اللة berlaku pula untuk seluruh umat manusia baik itu beriman atau kafir.
Kemuliaan bagi seorang manusia bukan hanya dinilai dari fisik. Belum tentu kita yang merasa sempurna bisa dinilai sempurna dan mulia di hadapan اللة karena "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi اللة adalah orang yang paling takwa diantara kamu." (QS.Al-Hujurat : 13). Bisa jadi orang yang sering menghina, tidak lebih mulia dari apa yang dihinanya. Orang yang hidupnya mulia adalah orang yang bisa memuliakan orang lain entah dalam kata-kata maupun sikap. Semoga اللة senantiasa menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang mulia.
Sabtu, 08 September 2012
Anak Kelahi, Ibu Perang Dingin
Hari ini aku mendengar cerita dari seorang teman yang tetangganya bingung dan nyaris hijrah dari rumah yang ditempati gara-gara tidak tahan dengan kelakuan ibu-ibu di sekitarnya. Hanya karena hal sepele menurutku. Gara-gara anaknya 'iseng' dan berkelahi sama anak tetangga dan akibatnya si ibu tidak terima dengan kenakalan anak tersebut, sehingga terjadilah perang dingin antar tetangga. Sementara para ibu sibuk dengan urusan perang dingin yang tak tuntas dalam waktu 3 hari, anak-anak dalam hitungan jam atau bahkan dalam hitungan menit, tak sampai berhari-hari sudah berteman kembali. Kasus ini tak hanya terjadi di satu tempat. Banyak laporan serupa kudapatkan. Kasus-kasus seperti ini sangat memprihatinkan. Betapa masih banyak ibu-ibu yang belum paham perannya sebagai seorang ibu, sebagai anggota masyarakat dan lebih jauh lagi sebagai seorang Hamba Allah. Seorang ibu seharusnya dapat memahami karakter anak masing-masing. Kalo memang merasa anaknya salah kenapa dibela mati-matian, sampai tetangga harus dimusuhi. Atau kalau memang anaknya yang dinakali kenapa tidak memberikan contoh pada sang anak untuk dapat memaafkan orang lain apalagi terhadap tetangga yang dikira Rasulullah bakal mendapatkan hak waris gara-gara malaikat Jibril senantiasa mewasiatkan untuk berbuat baik pada tetangga.
Tentulah ini bermuara dari belum pahamnya mereka akan nilai-nilai Islam. Mereka mungkin belum paham atau mungkin belum tahu bahwa yang namanya tetangga itu harus dihormati dan dimuliakan, seperti yang tertera dalam hadits “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6019, dari sahabat Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu).
Begitu mulia dan besarnya kedudukan tetangga, sampai-sampai Allah SWT memasukkannya di dalam 10 hak yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala (artinya): “Beribadahlah hanya kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)
Kalaupun kita termasuk orang yang dizolimi gara-gara kita dimusuhi tetangga padahal kita merasa tidak bersalah (setelah introspeksi diri tentunya), maka kedepankanlah sifat pemaaf ... Allah SWT saja tak akan berhenti memberikan ampunan pada hamba-Nya. Mengapa kita harus mengatakan "tiada maaf bagimu" untuk tetangga kita sendiri.
Wallahu 'alam bisawab
Tentulah ini bermuara dari belum pahamnya mereka akan nilai-nilai Islam. Mereka mungkin belum paham atau mungkin belum tahu bahwa yang namanya tetangga itu harus dihormati dan dimuliakan, seperti yang tertera dalam hadits “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6019, dari sahabat Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu).
Begitu mulia dan besarnya kedudukan tetangga, sampai-sampai Allah SWT memasukkannya di dalam 10 hak yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala (artinya): “Beribadahlah hanya kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)
Kalaupun kita termasuk orang yang dizolimi gara-gara kita dimusuhi tetangga padahal kita merasa tidak bersalah (setelah introspeksi diri tentunya), maka kedepankanlah sifat pemaaf ... Allah SWT saja tak akan berhenti memberikan ampunan pada hamba-Nya. Mengapa kita harus mengatakan "tiada maaf bagimu" untuk tetangga kita sendiri.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik kepada tetangganya.”(HR. at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma)
Wallahu 'alam bisawab
Langganan:
Postingan (Atom)