Minggu, 08 Maret 2015

Buatkan Untukku Rumah di Syurga

Bagiku,apa yg kumiliki saat ini sudah lebih dari cukup. Suami yang sholeh dan anak-anak yg sholeh/ah,InsyaAllah. Rumah walaupun menurut kita sederhana, itu sudah luar biasa. Walau terkadang kita masih suka terpana dengan mereka yang punya rumah besar dan elit, atau ngiler ngliat orang mengendarai mobil nyaman nan mewah... manusiawi kurasa. Tapi itu hanya kenikmatan dan kenyamanan di dunia...

Allah yang Maha Kaya berfirman :
 ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS. Al-Kahfi : 46).
yang namanya perhiasan memang indah bila dipandang,tapi belum tentu membuat si empunya tenang memilikinya.. Kita memang harus banyak berkorban dan bekerja keras untuk kehidupan kita. Tapi kerja keras dan pengorbanan kita bukan semata-mata untuk kenikmatan dunia, tapi upaya untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sia2 rasanya kalau seandainya kita terlalu ngoyo di dunia,kalau akhirat kemudian terlalaikan. Karena :
”Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, dan perhiasan” (Qs. Al-Hadiid : 20).
Perjalanan kita mengarungi hidup bersama, adalah perjalanan yang luar biasa,banyak menyadarkan aku akan banyak hal. Menyadarkan aku betapa banyak nikmat yang seharusnya kita syukuri.

Sebagai Makmum...aku ingin dibimbing agar kelak dapat tinggal di istana indah di syurga-Nya.
Ingatkan aku yang pasti tidak sempurna. Ikhlaskan aku bekerja untuk dakwah. Karena doa yg kupanjatkan saat akan menikah adalah aku ingin mendapat suami yg mndukung kerja dakwahku. Begitu pula dengan apa yang kita miliki saat ini...juga bisa bermanfaat untuk ummat. Biarlah kita tinggal di rumah yang sederhana, tapi tetap aku minta, buatkan aku rumah di syurga...

Kamis, 11 September 2014

Jangan Sombong

Bismillahirohmaanirrrohiim.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ya Allah,semoga Engkau senantiasa membimbing hati, lisan, dan pikiranku berada dalam keridhoan-Mu.
Jauhkanlah diriku dan keluargaku dari sifat sombong karena kesombongan hanyalah milikmu Sang Pemilik alam semesta.
Hari ini aku teringat akan kisah Qorun yang durhaka dan sombong. Qorun adalah seorang yang awalnya miskin, tapi biidznillah do'a nabi Musa atas dirinya agar menjadi orang yang kaya dikabulkan oleh Allah.
Semula cita-citanya adalah membantu sesamanya. Tapi seiring dengan waktu, ternyata apa yang dicita-citakan tak dia laksanakan. Harta yang dia dapatkan justru membuat dirinya menjadi sombong. Kisahnya dapat kita lihat lengkap pada surat Al-Qasas ayat 76 - 82.
Qorun mengatakan harta yang dia dapatkan adalah hasil dari usahanya, padahal apa yang dia dapatkan tak lepas dari skenario Allah. Kalaupun Allah tidak menghendaki, pastilah dia tidak akan kaya. Kesombongan telah mengantarkannya ditelanbumi bersama harta yang diusahakan.
Sepenggal kisah Qorun memiliki makna yang sungguh dalam. Seberapa derajatpun kelebihan kita maka itu adalah karunia dari Allah. Manusia hanya berusaha, dan usaha itulah yang akan dinilai.
Allah tidak akan bertanya berapa bannyak harta yang kita kumpulkkan ketika dipanggil  oleh-Nya kelak. Tapi Allah akan menilai usaha,kejujuran, dan komitmen kita pada-Nya.
Kita harus ingat bahwa ketika menuju sukses, pasti ada yang terkorbankan. Maka janganlah melupakan orang-orang yang sudah membantu kita menapaki tangga kesuksesan. Tak ada guna harta, jabatan atau apa pun yang menjadi parameter kesuksesan seseorang,apabila dia tidak menghargai orang yang berkorban untuknya, banyak yang merasa terdzolimi, karena do'a orang yang dizalimi bisa terkabul seperti Nabi Musa yang akhirnya mendoakan Qorun agar hilang ditelan  bumi.
Na'udzubillah...

Senin, 23 September 2013

Anugerah Itu adalah ..... Kesempatan untuk Memilih

Pernahkah kita merenung, ternyata Allah SWT memberikan satu anugerah yaitu berupa kebebasan dan kemampuan untuk memilih. Yang tentunya ketika sudah jatuh pilihan kita atas sesuatu maka konsekuensi dan resiko atas pilihan tersebut haruslah kita tanggung. Pada dasarnya keberadaan dan kondisi kita saat ini adalah keputusan dari berbagai macam pilihan yang terbentang sejak awal diciptakannya manusia.
Nabi Adam turun ke bumi akibat pilihannya mengikuti ucapan iblis untuk makan buah khuldi. Kita lahir ke dunia ini karena ayah kita memilih untuk menikah dengan ibu kita. Kita berada di tempat kerja kita saat ini, juga hasil pilihan kita masing-masing. Memang Allah sudah membuat skenario atas kehidupan kita tapi tetap saja pilihan-pilihan itu ada di tangan kita masing-masing. Maka ketika kita keliru mengambil pilihan, jangan menyalahkan siapa pun, jangan menyalahkan Allah, jangan menyalahkan orang tua, teman, atasan, suami dan yang lainnya. tapi kita harus mengevaluasi kenapa itu bisa terjadi. Bisa jadi karena terburu-buru dan tak sabaran mengambil keputusan, atau ilmu kita yang masih kurang, dan yang terpenting barangkali kita masih jauh pada Sang Maha Pembuat Pilihan sehingga sensitivitas kita untuk memilih yang terbaik jadi berkurang.

Senin, 29 April 2013

Pola Perilaku Orang Tua dan Pengaruhnya pada Anak

   Menjadi orang tua bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan usaha dan kesabaran yang luar biasa agar anak-anak kita tumbuh dengan kepribadian yang menawan. Ibarat kita sedang bermain layang-layang, kadang kita harus menarik talinya agar tidak terlepas tak tentu arah, kadang juga harus diulur agar dia bebas bergerak mengikuti arah angin, yang pasti jangan sampai tali itu terlepas dari tangan kita karena ketika terlepas layangan bisa jadi berpindah tangan alias direbut orang, jatuh dan terinjak-injak, atau menggantung di suatu tempat, kadang di genteng atau mungkin di kabel listrik. Demikian pula dalam mendidik anak, terkadang kita harus tegas memberikan aturan pada mereka, kadang kita juga membebaskan mereka melakukan sesuatu sesuai pilihannya tapi tetap terkontrol agar tidak menyimpang dari aturan yang ada, karena bagaimanapun seorang anak adalah amanah yang harus dijaga.
     Pola perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak, sudah tentu berpengaruh pada pembentukan karakter sang anak sampai dia dewasa. Berikut adalah Pola Perilaku Orang Tua dan pengaruhnya bagi anak (diambil dari buku 'Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Dr.H. Syamsu Yusuf  LN., M.Pd.)  :
 1. Overprotective (Terlalu Melindungi)
      Orang tua yang overprotective adalah orang tua yang memberikan bantuan terus menerus kepada anak, mengawasi kegiatan anak terlalu berlebihan, ketika anak terbentur kepada suatu masalah orang tua selalu membantu memecahkan masalah anak. Akibatnya anak sering memiliki perasaan tidak aman, agresif & dengki, mudah gugup, melarikan diri dari kenyataan, sangat tergantung pd orang lain, mudah menyerah, kurang PD, mudah terpengaruh, egois, dan suka bertengkar
 2 . Permisiveness (Pembolehan)
Orang tua Memberikan kebebasan untuk berpikir, menerima gagasan/pendapat, toleran dan memahami kelemahan anak, cenderung lebih suka memberi yang diminta anak. Anak dengan pola asuh seperti ini akan pandai mencari jalan keluar, dapat bekerja sama, PD, penuntut tapi kadang anak jadi sering tidak sabaran.
 3. Rejection (Penolakan)
Orang tua yang sering bersikap masa bodo, kaku, kurang mempedulikan kebutuhan anak, menampilkan sikap bermusuhan. Akibatnya adalah anak akan agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh/keras kepala, nakal), kurang dapat mengerjakan tugas, pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung dan penakut, sulit bergaul,pendiam, sadis.
 4. Acceptance (penerimaaan)
Memberikan cinta kasih yang tulus pada anak, menempatkan anak dalam posisi yang penting dalam rumah, memiliki hubungan yang hangat dalam rumah, berkomunikasi dg baik, terbuka, maka pengaruhnya pada anak adalah mereka mau bekerja sama, bersahabat, emosi stabil, ceria dan optimis, jujur, dapat dipercaya, memiliki perencanaan masa depan yang baik.
 5. Domination (dominasi)
  Orang tua mendominasi anak. Anak akan bersikap sopan, sangat hati-hati, pemalu, penurut, mudah bingung, tidak dapat bekerja sama. Anak dengan pola ini kelihatannya memang sangat baik, dapat  bersikap sopan, sangat hati-hati, pemalu, penurut, tapi ternyata juga mengakibatkan anak mudah bingung dan tidak dapat bekerja sama. 
 6. Submission (Penyerahan)
 Orang tua senantiasa memberikan sesuatu yang diminta anak, membiarkan anak berperilaku semaunya di rumah. Akibatnya anak tidak patuh, tidak bertanggung jawab, agresif dan teledor, otoriter, terlalu percaya diri.
  7. Overdisiplin (terlalu disiplin)
   Orang tua yang overdisiplin mudah memberikan hukuman dan menanamkan kedisiplinan secara keras. Akibatnya anak tidak dapat mengambil keputusan, sering dicap nakal dan menunjukkan sikap bermusuhan.
       Dari ketujuh pola yang tersebut, mungkin yang paling ideal adalah yang ke-empat, yaitu pola Acceptance (Penerimaan). Bagaimana menurut pendapat Anda?

 
   
  

Selasa, 23 April 2013

Selamat Hari Kartini....

Masyarakat Indonesia merayakan hari Kartini setiap tanggal 21 April, biasanya beberapa merayakan dan memeriahkan dengan berbagai lomba, diantaranya dengan lomba busana daerah seperti yang kemarin kulihat di sebuah sekolah SD. Bagiku perayaan Kartini bukan hanya sekedar membangkitkan semangat "emansipasi"yang sering disalah arti, atau semangat "Kesetaraan Gender" yang diusung berbagai kelompok wanita yang sering tak tau diri.
Apa yang diperjuangkan Ibu Kartini bukan untuk menempatkan perempuan sama persis dengan laki-laki dalam segala hal ...repot juga ya kalo perempuan harus sama semuanya dengan laki-laki, padahal secara fisik dan psikologis perempuan dan laki-laki banyak perbedaannya. Walupun untuk hal-hal yang bersifat spiritual dan kemanusiaan memang ada kesamaan antara laki-laki dan perempuan, seperti dalam surat At-Taubah ayat 71, "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Kartini adalah pejuang hak wanita sejati, bukan memperjuangkan emansipasi yang membuat perempuan kadang lupa diri dan tak hormat pada suami. Yang beliau perjuangkan adalah pendidikan yang layak bagi kaum perempuan, yang pada saat itu memang didiskriminasikan. Pendidikan yang kelak menjadi bekal dalam mendidik putra-putri mereka, bukan justru untuk bersaing dengan tujuan ingin menjadi pemenang dalam pertarungan antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana pikiran RA. Kartini yang ditulis pada masa hidupnya. “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Demikian surat RA. Kartini kepada Prof. Anton dan istrinya pada 4 Oktober 1902.
Semoga perempuan-perempuan Indonesia khususnya para muslimah tidak terjebak dengan permasalahan kesetaraan GENDER dan arus dunia yang mengarah  pada materialisme dunia yang sangat menggoda. Kembalikan semua pada hukum Allah SWT....
Walaupun agak terlambat saya ucapkan Selamat Hari Kartini....bagi perempuan-perempuan Indonesia :)

Kamis, 14 Maret 2013

Beratnya Mengawali Usia Remaja

        Menghadapi anak SMP memang berbeda dibandingkan mengajar anak di tingkat di bawahnya atau di atasnya. Anak SMP, berada pada fase  Remaja Awal (12-15 Tahun), menurut Kartono (1990). Pada saat ini, remaja mengalami perubahan jasmani yang sangat pesat dan perkembangan intelektual yang sangat intensif sehingga minat anak pada dunia luar sangat besar, pada saat ini remaja tidak mau dianggap kanak-kanak lagi namun mereka masih belum bisa  meninggalkan sifat kanak-kanakannya. Pada masa ini remaja sering merasa ragu-ragu, tidak stabil, tidak puas dan merasa kecewa.
     Masa-masa ini merupakan masa yang sangat berat bagi mereka untuk menyesuaikan segala macam kondisi perkembangan dalam diri, lingkungan sekolah, lingkungan teman-teman sebaya, dan juga sikap orang tua terhadap dirinya. Tetapi sebetulnya penyesuaian ini tidak akan terlalu berat dirasakan jika lingkungan keluarga, khususnya, sudah mempersiapkan hal ini dari jauh hari ketika usia mereka masih  dini. 
       Pola pendidikan anak di usia dini akan terlihat pada perilaku usia remaja mereka. Bila pada usia dini mereka terlalu dimanjakan dengan segala kemudahan, dituruti setiap ada kemauan, maka mereka akan menjadi remaja yang tidak mandiri, mudah putus asa dan kemungkinan memiliki dendam tersendiri pada orang tua, mereka merasa bahwa ayah dan ibu sudah tidak peduli. Karena banyak orang tua yang secara drastis di usia itu "melepaskan" anak-anak  yang dianggapnya sudah mandiri, tanpa menyadari bahwa para orang tua itu belum memberikan bekal kemandirian yang cukup saat anaknya masih berusia dini.   
      Ada pula tipe anak yang terlalu banyak diatur dengan sistem yang kaku sejak kecil, perintah orang tua diawali dengan kata "Pokoknya", anak tidak diberi kebebasan berpendapat. Ujung-ujungnya dia akan minder, sulit maju karena dihinggapi banyak ketakutan ketika akan melangkah. Ini salah .. itu salah. 
       Bagi orang tua yang sedang menghadapi anak usia remaja...banyak-banyaklah bersabar, mengintrospeksi diri, jadikan diri kita sahabat yang terbaik bagi mereka, dan tentu harus banyak berdo'a, mendekatkan diri pada-Nya. Kenakalan anak di usia remaja, adalah cermin pola didik orang tua dan lingkungan sekitarnya. Betapa pun beratnya perubahan di usia ini, harus dihadapi dan bukannya dihindari, karena keberhasilan 'menaklukan' anak-anak di usia ini akan mengantarkan mereka menuju gerbang keberhasilan di masa mendatang. Insya Allah....
    

Kamis, 21 Februari 2013

Mau Jadi Guru yang Kaya ...?? Yakin...Pasti Bisa !!! ^_^

Kenapa sih guru harus kaya? Matre dong namanya??Guru kan pahlawan tanpa tanda jasa!Eit..tunggu dulu, yang namanya kaya memang berkaitan dengan harta saja?? Jadi guru itu kan harus kaya ilmu, kaya hati, dan ofcourse ga salah juga kalo kaya harta, manusiawi lah...guru juga manusia.
Kenapa harus kaya ilmu? Ya pastilah...namanya juga guru, pastilah harus banyak menyampaikan sesuatu, kalo gak banyak ilmu, anak-anaknya mau dikasih apa, jadi apa?jangan sampe karena ilmunya pas-pasan akibatnya kemampuan anaknya juga jadi ikut pas-pasan. Asal lulus saja. Yang kasihan bukan hanya anaknya, negara juga rugi loh...bayangkan kalau dari sekian juta guru (apalagi yang digaji pemerintah) ada seratus ribu  guru ga kaya ilmu dan wawasan, berapa ratus ribu anak Indonesia yang ikut-ikutan ga pinter yang akhirnya menjadi penyumbang kemunduran bagi negara ini...Kalau gurunya banyak ilmu, kan bisa banyak berbagi dengan anak didiknya. Apalagi kalau bisa menyesuaikan diri dengan berbagai bidang keilmuan yang berkembang saat ini, apa ngga tambah pinter tuh anak didiknya...
Jadi guru juga harus kaya hati. Karena guru itu digugu dan ditiru. Kata-kata dan perilakunya akan disorot oleh banyak orang, bukan cuma anak didiknya saja. Berat memang, itulah resiko menjadi seorang guru. Harus berbesar hati meninggalkan kebiasaan-kebiasaan  yang tidak baik supaya anak didik meniru kebiasaan baik dari diri kita, ikhlas menghadapi anak didik yang tingkahnya macam-macam, ikhlas mendengarkan curhat  mereka, sabar menghadapi orang tua yang kadang tidak bisa sejalan dalam mendidik anaknya, ikhlas bekerja di luar jam ngajar, sabar menghadapi  lingkungan yang kadang tidak sepaham, ikhlas mendapatkan penghasilan yang pas-pasan (pas butuh pas ada ^_^)
Jadi guru juga harus kaya harta...kenapa?Kalo guru bisa kaya, gak pusing lagi mikirin uang belanja di rumah yang pas-pasan. Waktunya bisa dimanfaatkan lebih banyak untuk memikirkan apa yang harus diperbuat untuk anak-anak didik. Tapi tetep jangan sampe menelantarkan anak didik. Pengen kaya tapi akhirnya anak didik sering ditinggal untuk mengerjakan proyek, ngorupsi dana buwat sekolah dan anak didik. Kalau gajinya sudah lumayan apalagi kalo sudah pada sertifikasi, ngapain pake acara korupsi dan bikin pungli :), jalankan tugas sesuai dengan komitmen dan tupoksi sebagai guru.
Bisakah itu semua direalisasikan oleh seorang guru?? Pasti BISA !!
Keinginan adalah modal penting bagi seseorang untuk dapat berubah. Berubah menjadi lebih baik tentunya, kualitas hidup yang lebih baik, pola kerja yang lebih baik, cara mengajar  yang lebih baik, rumah yang lebih baik, penghasilan yang lebih baik, dsb...Tapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud, bahkan gagal dan hanya menjadi sebuah mimpi  jika seseorang tidak memiliki keyakinan. Keyakinan ibarat sebuah energi yang mendorong kita melakukan apapun sesuai dengan keinginan yang akan diraih. Orang yang tidak yakin bahwa dia bisa mencapai impiannya, jelas kalah sebelum bertanding. Dan tentunya kita gantungkan semua harapan itu kepada yang Maha Kuasa atas terkabulnya keinginan kita ...Allah SWT.
Rasulullah saw bersabda:

اَلصَّبْرُ نِصْفُ الإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اَْلإِيْمَانُ كُلُّهُ
Sabar adalah separuh iman, sedangkan keyakinan adalah iman seluruhnya.

Rahmat Allah itu sangatlah luas, keyakinan kita untuk mencapai sesuatu apalagi tujuannya baik, tentu akan Allah memberi support alias pertolongan yang sering tidak kita duga.



Rabu, 20 Februari 2013

Menjadi Kaya...Siapa Aja Bolehh, Asal....

Banyak orang yang bercita-cita menjadi kaya, punya uang banyak, harta berlimpah,makan enak, dll. Tapi kadang terminologi kaya setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan kaya itu kalau sudah punya rumah mewah, ada yang mengatakan kaya itu kalau sudah punya mobil, ada yang mengatakan kaya itu sudah punya rumah sendiri, ga ngontrak, makan cukup,dll.
Menjadi kaya memang hak setiap orang, dan keinginan seseorang memang pasti akan terus bertambah, tidak akan merasa cukup dengan apa yang dia punya. Sudah ada di level 1, mau naek ke level 2, sudah ada di level 2 mau naek ke level 3 dan begitu seterusnya...Itu sebabnya yang membuat orang berperilaku tidak wajar. Gajinya sudah besar, rumah mewah di sana-sini, mobil sudah berjejer di garasi, masih saja korupsi, kenapa ??? padahal menurut orang biasa, yang boro-boro mimpi punya mobil mewah, naek mobil aja ga pernah, dia itu kaya buanget loh! Karena dia melihat kepada orang yang hartanya atau kedudukannya lebih tinggi. Sehingga apa yang ada di depan matanya tidak berarti apa pun.  
Berarti kita ga boleh berharap jadi kaya dong!...Silakan saja, siapa yang melarang, tapi tetaplah pada koridor yang benar. Ada satu rumus yang harus dipegang, Kekayaan itu bukan semata hasil usaha kita tapi juga atas izin dan pemberian dari Allah. Betapa banyak orang yang sudah berkeyakinan  akan memenangkan suatu tender, tapi pada hari-H ternyata gagal, bukan karena usahanya tidak maksimal, tetapi karena memang Allah belum mengizinkan. Di sini lah perlu adanya perasaan SYUKUR pada Sang Pemberi kekayaan karena Dia telah memilih kita mendapatkan kekayaan itu, walaupun hanya sedikit...itu adalah nikmat yang tak terkira dari-Nya. Tentu juga tak terlepas dari IKHTIAR. Ikhtiar seperti apa? ikhtiar nyari peluang kerjaan yang baik, halal, jangan nipu orang, mendzalimi hak orang, dan tentunya DO'a...

Rabu, 26 Desember 2012

When I was...

Aku dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang mengalami pasang surut ujian yang menurutku luar biasa, walaupun kalau dilihat ke bawah, aku bersyukur masih lebih baik daripada keluarga lain yang nasibnya jauh lebih buruk dari keluargaku. Ketika kecil sampai usia 6 tahun, Bapak dalam masa jaya, jadi direktur di sebuah perusahaan. Katanya aku kenyang dibawa jalan-jalan kemana-mana, fasilitas yang tercukupi untuk ukuran tahun 80-an. Tapi sayang, masih kecil, jadi aku belum terlalu ingat, hanya foto-foto yang jadi saksi bisu ...;)
Namun kebahagiaan dalam wujud materi itu berubah dan membalik keluargaku dalam kondisi yang kacau, perusahaan Bapakku bangkrut, ekonomi keluargaku berada dalam kondisi yang tidak begitu baik. Alhamdulillah ibuku masih bekerja sebagai guru di sebuah SD Negeri. Walaupun gaji guru saat itu sangat jauh dari sejahtera, tidak seperti saat ini, ditambah hasil kerja Bapak yang sering tak menentu. Kami anak-anaknya bisa sekolah sampai ke jenjang Perguruan Tinggi.
Ibu selalu mengatakan, kami tidak punya harta yang dapat diwariskan, hanya ada satu rumah BTN yang kami tinggali,warisan kami adalah membiayai anak-anak untuk sekolah supaya bisa memenuhi semua kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada orang tua kelak.
Karena mungkin aku anak perempuan satu-satunya, paling tua, jadi segala kesulitan, kesenangan yg ibuku alami, aku pun merasakan...kesabaran, kunci utama yang menjadikan ayah dan ibuku tetap bersatu dalam keadaan susah dan senang. Kesadaran akan masa depan anak-anaknya juga membuat ibuku kuat menghadapi ujian.
Pelajaran-demi pelajaran akan terus kupetik, sebagai pengingat diri untuk mengikuti arah yang sesuai dan menghindari jalan yang sekiranya menjerumuskan. Mensyukuri keberadaan kita saat ini adalah pembuka menuju kebahagiaan yang abadi. Syukur bukan hanya sekedar pada banyaknya harta, yang justru seringkali membuat orang menjadi kufur. Syukur bukan hanya pada pujian  yang seringkali membuat orang menjadi ghurur. Bersyukurlah atas segala kenikmatan walaupun kenikmatan itu hanya sedikit. Karena dari yang sedikit lama-lama bisa jadi bukit...

Selasa, 11 Desember 2012

Keluarga Berkualitas


Bersatunya dua insan yang berbeda dalam naungan pernikahan  adalah suatu peristiwa sakral. Terbentuknya suatu keluarga bukan hanya janji yang diucapkan dan didengarkan oleh sekian banyak undangan yang menghadiri aqad nikah, tapi janji yang akan senantiasa terdengar dan terjaga di ‘Arasy Ilahi.  Menjaga keutuhan, kelanggengan, dan keharmonisan keluarga adalah satu pekerjaan panjang yang melelahkan namun kelelahan itu akan terobati jika seluruh anggota keluarga memiliki kesamaan visi, mengejar kedudukan yang mulia di surga yang nan abadi. Baiti, Jannati...Rumahku, Surgaku...., demikian Rasulullah  SAW memosisikan sebuah keluarga yang harmonis dan berkualitas yang akan senantiasa berlimpah rasa saling mencintai, menjadi tempat yang nyaman untuk kembali dari hiruk pikuknya putaran aktivitas dunia.
Hadirnya keluarga yang harmonis dan berkualitas, sangat didambakan di negeri kita ini. Keluarga berkualitas akan menjadi poros perubahan di masyarakat, mereka tidak hanya sibuk dengan urusan masing-masing, namun justru menjadi wadah pemberdayaan masyarakat, dan melahirkan generasi penerus perjuangan bangsa yang tangguh dan kokoh secara intelektual, fisik, emosional dan ruhiyah.
Keluarga harus menjadi tonggak utama penyebaran nilai-nilai Islam dan kebaikan di negeri yang semakin tergerus arus globalisasi. Alangkah miris hati nurani dengan meningkatnya angka perceraian dari tahun ke tahun. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. (Republika co.id)  Tentu saja hal ini sangat disayangkan, karena dengan tingginya tingkat perceraian, semakin banyak pula permasalahan sosial yang muncul.
 

Tergesa-gesa

Allah memberikan nikmat waktu luang yang sangat banyak, tapi kadang atau malah sering kita tak bersyukur atas nikmat tersebut. Terkadang kita sendiri yang mengulur-ulur waktu, dan ketika datang deadline akhirnya grasak-grusuk mengejar target dalam waktu yang sangat terbatas. Dan hasilnya? Sering tidak optimal. Sadar atau tidak sadar hal ini sudah sering terjadi sejak kita kecil. Ketika sekolah sampai kuliah, masih banyak diantara kita yang belajar dengan sistem SKS alias Sistem Kebut Semalam, besok ujian malam ini baru belajar. Ketika mengerjakan tugas pun demikian, tugas yang diberikan sebulan lalu baru dikerjakan sehari sebelum dikumpulkan. Ketika sudah bekerja pun ternyata masih tetap sama, kebiasaan seperti itu sepertinya perlu latihan ekstra supaya dapat hilang ya minimal berkurang lah...
Tergesa-gesa ternyata memang sudah jadi tabiatnya manusia sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra : 11
Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia (bersifat) tergesa-gesa.
Di dalam beberapa hal, terutama dalam melakukan amal-amal soleh, kita memang harus tergesa-gesa, jangan sampai tertinggal, fastabiqul khairat....bergegas mendahului orang lain untuk berbuat kebaikan, itu sifat tergesa-gesa yang positif.
Tergesa-gesa yang negatif ???selain masalah tugas, dalam kehidupan nyata kita sering melakukan tindakan tergesa-gesa yang lebih mengarah pada tindakan yang irasional. Contohnya...pas online, ada iklan lewat, barang keluaran terbaru, diskonnya menarik, langsung aja dibeli tanpa pikir panjang, padahal ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Atau mungkin bisa jadi untuk hal-hal yang baik, misalnya ngajak orang berbuat baik (dakwah), tapi langsung action alias ekstrim tanpa pake strategi  akibatnya bukan bikin orang jadi baek eh malah dia menjauh dari kita dan justru  membenci apa yang menurut kita baik.Kalau sudah begini yang repot bukan hanya kita, tapi orang lain, komunitas, atau bahkan agama jadi kena batunya.
Jadi bertindak bijak dan rasionallah dalam melakukan apapun.
an sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia (bersifat) tergesa-gesa.

Sabtu, 24 November 2012

Mimpi

"Mimpi itu gratis!" Itu yang sering diucapkan oleh suamiku kalau kuprotes jika dia sedang mengungkapkan mimpi-mimpinya. Walaupun mimpi-mimpi itu masih sangat sederhana.Tapi alhamdulillah hampir seluruhnya bisa tercapai. Dan aku pun bisa ikut menikmati hasil dari mimpinya. Kadang memang kita tak berani untuk bermimpi. Padahal mimpi itu perlu juga sebagai motivator kita untuk bekerja dan beramal dengan lebih baik lagi.
Mimpi mendekatkan kita pada kenyataan, mimpi akan membawa kita dekat pada Allah. Ko bisa ya? Saat kita punya impian,mau tidak mau kita pasti membayangkan seolah-olah kita sedang bersama atau berada dalam impian kita. Coba kalau kita ngga pernah punya mimpi, atau takut bermimpi malah,  tentu tak ada bayangan apa pun di pikiran kita. Orang yang serius dengan mimpinya, jadi punya harapan, harapan itu bisa jadi sebuah do'a, dan do'a itu tentu kita gantungkan pada Yang Maha Memiliki apa yang kita impikan. Semakin banyak mimpi dan keinginan kita, semakin banyak interaksi kita dengan-Nya.
Jadi, silakan bermimpi apa pun, asal bermimpi yang positif dan tentu harus ada usaha, jangan hanya kebanyakan mimpi tapi malas untuk merealisasikannya.

Rabu, 21 November 2012

KENAPA PERLU BELAJAR WIRAUSAHA SEJAK DINI?

       Wirausaha atau dikenal pula dengan istilah Entrepreneur dapat diperkenalkan sejak dini melalui lembaga pendidikan formal, entah itu di SMA, SMP bahkan mungkin dimulai dari bangku SD. Kenapa perlu diajarkan sejak dini? Karena untuk menjadi seorang wirausahawan yang tangguh tidak bisa seinstan yang diharapkan. Bukannya karena baru sekali ikut seminar-seminar wirausaha kemudian bisa langsung jadi. Tapi diperlukan latihan yang cukup panjang untuk memunculkan keberanian, kemandirian, memunculkan ide, menghadapi dan memecahkan masalah, dan menimba pengalaman dari mereka yang sudah berhasil.
Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal atau pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat, kewirausahaan menjadi berkembang.
     Dalam agama Islam, kewirausahaan sudah dicontohkan sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W. Dimana beliau adalah seorang usahawan yang ulung. Beliau memupuk jiwa wirausaha sejak dini, dengan ikut pamannya berdagang ke Syiria. Khadijah, istri pertama Rasulullah dikenal pula sebagai usahawan. Para sahabat di zaman Rasul pun banyak yang menjadi usahawan sukses.  Utsman bin Affan, salah seorang Khulafa’ur Rasyidin yang juga seorang pengusaha. Meskipun kaya raya, beliau hidup dengan sederhana dan sangat dermawan sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Zuhud. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat nabi yang kaya raya dan dermawan karena kemahirannya dalam berdagang. Ia termasuk salah satu sahabat nabi yang permulaan menerima Islam (Assabiqunal Awwaluun).
       Berwirausaha memang jarang menjadi pilihan untuk meningkatkan perekonomian, masyarakat lebih cenderung menjadi karyawan atau pegawai negeri. Padahal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa suatu bangsa mampu membangun negerinya apabila wirausahawannya mencapai 2% dari jumlah penduduknya. Sepanjang wirausahawan tersebut sudah terjamin mutu dan kelangsungan hidupnya.


Selasa, 13 November 2012

Seimbang

Allah SWT menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan seimbang. Perhatikan bagaimana Allah siang dengan malam, bumi dan langit, ada pahala dan dosa, ada kebaikan dan keburukan....alam pun diciptakan dengan seimbang, pas untuk kebutuhan makhluk yangdiciptakan-Nya. Yang merusak keseimbangan justru manusia, yang akhirnya menimbulkan kerugian bagi manusia itu sendiri. Mengapa manusia berbuat kerusakan di muka bumi? Karena manusia tidak dapat memanfaatkan potensi yang telah Allah berikan dengan seimbang.
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Q.S Al-Mulk[67]: 3-4)
Setiap manusia memiliki 3 potensi dalam dirinya, yaitu jasad, ruh, dan akal. Ketiga potensi ini jika dioptimalkan fungsinya, tentu akan melejitkan sosok makhluk Allah yang paling sempurna.
Manusia memiliki jasad yang harus senantiasa dijaga kesehatannya, pola hidup yang baik mulai dari pola makan, aktivitas kerja, olah raga dan istirahat, harus seimbang, agar tidak loyo. Umur memang di tangan Allah, alangkah  lebih berharganya hidup kita jika menjalani hidup dengan fisik yang sehat dan bugar. Manusia juga memiliki ruh. Sisi ruhiyah tentu harus diperhatikan juga. Ruh juga perlu asupan layaknya jasad yang memerlukan makan. Yaitu dengan senantiasa mengingat Allah. Fisik yang kekar tidak ada artinya jika energi ruhiyahnya kosong. Manusia juga punya akal yang juga perlu makan, kok bisa?ya bisalah...akal butuh asupan ilmu, tapi tentu ilmu yang baik-baik, yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Apa yang akan terjadi jika ketiga potensi itu tidak teroptimalkan ??
Coba bayangkan seseorang yang memiliki fisik yang kuat, ganteng/cantik, sholatnya rajin...tapi ternyata dia agak tulalit, ga nyambung kalo diajak ngomong, bingung kalo mau ngobrol sama orang karena ilmunya ga nyampe. Tentu dia akan MINDER..
Bagaimana dengan orang yang sholatnya rajin, ilmunya juga woke karena dia rajin baca buku dan ikut kajian sana sini, tapi dia tidak memperhatikan kebutuhan fisiknya, makan tidak teratur, olah raga tidak pernah, yang terjadi adalah fisiknya jadi KELENGER.
Trus kalo orangnya sehat, kebutuhan fisik sudah optimal, otaknya juga pinter kaya profesor, tapi ternyata dia jauh sama Allah. Dia manfaatkan ilmunya hanya untuk kesenangan pribadi atau justru untuk merusak atau mendzalimi orang lain, maka dia disebut orang yang KEBLINGER alias ga tau diri...
So...supaya tidak termasuk dalam 3 kategori tadi, berusahalah hidup dengan seimbang atau  TAWAZUN. 


Allah berfirman dalam Al-Quran surat Ar-Rahman[55]: 7-9
"Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu"

Wallahu a'lam bisshawab
     

Senin, 05 November 2012

Belajar dari Sejarah

Sejarah adalah sesuatu yang sangat harus kita pelajari. Tidak semata menghafal tanggal, tapi yang lebih penting adalah memahami makna yang terkandung dari peristiwa yang sudah berlalu. Dari sejarah, kita bisa belajar banyak. Belajar tentang bagaimana orang-orang berhasil meraih kesuksesan. Belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.
Sebagai seorang muslim misalnya, kita mempelajari sejarah para nabi. Mulai dari Nabi Adam A.S sampai Nabi Muhammad S.A.W. Untuk apa kita belajar sejarah nabi? Apakah hanya supaya hafal nama-nama nabi? Kalo hanya sekedar menghafal nama, itu sesuatu yang mudah. Tapi tahukah kita akan kejadian yang menimpa para nabi dan kaumnya? Apa akibat dari ketidakyakinan umat para nabi di zamannya  pada ajaran Allah sehingga mereka mengalami kehancuran? Andaikan semua manusia di zaman ini sadar dan yakin akan peristiwa di masa lampau termasuk azab yang ditimpakan pada mereka. Mungkin tak akan ada yang berani menyombongkan kekayaan dunia seperti Qorun, atau tak akan ada yang berani melakukan homoseks seperti yang dilakukan orang-orang pada zaman nabi Luth....
Sejarah memang sesuatu yang sangat jauh dan tidak bisa kita ulang. Tapi dari sejarah kita bisa berkaca diri, berusaha memperbaiki diri, dan belajar untuk menghargai karena bagaimanapun keberadaan kita di dunia adalah bagian dari suatu sejarah. Apakah sejarah hidup kita kelak tercatat dengan tinta emas atau kah justru kita mengotori catatan sejarah hidup kita? it's depend on you!!
Let's Fastabiqul Khairat
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Abaqarah 148).

Rabu, 24 Oktober 2012

Positif atau Negatif?

Zaman akan terus bergerak dan berubah, tapi keyakinan pada Allah SWT tak bisa berubah. Allah akan tetap Esa, Allah akan senantiasa ada di setiap langkah kita...
Terkadang kita terlalu over estimate yang  justru cenderung berarah pada pesimisme melihat kemajuan zaman yang tentunya berimbas pada segala macam kehidupan sosial. Kita memang khawatir terhadap melesatnya alat komunikasi terhadap pergaulan anak-anak kita. Efeknya memang terkadang negatif, tapi dibalik sisi negatif tentu ada sisi positifnya. Segala sesuatu bila dilihat sisi negatifnya saja memang pada akhirnya akan menimbulkan prasangka-prasangka yang buruk dan ujungnya akan melahirkan fitnah. Tapi ketika apa yang kita lihat adalah sisi positif maka potensi-potensi baik pun akan bermunculan. Misalkan ketika mendapatkan oleh-oleh dari teman yang baru datang dari luar negeri. Ada yang di dalam hatinya mengatakan "Ah, sombong amat, baru ke luar negeri sekali aja pake ngasih oleh-oleh begini segala, yang kaya gini mah di Indonesia juga ada!" Orang yang seperti ini sudah menutup peluang kebaikan untuk dirinya sendiri, menutup peluang bersyukur, menutup peluang mendapatkan rizki yang lebih baik. Malah dia dapat dosa kalau apa yang disangkakan tidak benar. Orang yang satu lagi mengatakan : "Alhamdulillah, terima kasih ya atas hadiahnya,mudah-mudahan bermanfaat, semoga kamu bisa dapat kesempatan pergi ke sana lagi, dan bisa ngajak saya :) !" Orang yang ini tentu dibukakan peluang-peluang mendapatkan kebaikan, dengan bersyukur pada Allah, rizkinya bisa jadi nambah, dapat pahala karena menyenangkan orang lain, dan bisa mendoakan orang lain dan diri sendiri. 
So...Hadapi masa depan dengan positif thinking, dan positif effort tentunya, gantungkan semua harapan pada yang Maha Mengatur kehidupan. Kuatkanlah keyakinan pada-Nya, biarkan Allah yang menjaga keturunan kita di masa yang akan datang. Jangan lupa berdo'a...